Cinta Tumbuh di Muharram




Ditulis oleh Hanifati Nur Shabrina

Hampir setahun. Aku membatin lirih sambil memandangi sebuah foto. Ah, tidak sulit mengingat hari pernikahan kami jika berpedoman dengan kalender hijriah. Kami menikah di hari yang sangat unik. Bisa tebak kapan?

Satu muharram. Beberapa orang berkeyakinan bahwa di hari ini, kita tidak boleh keluar rumah. Namun, aku dan mas justru menikah di hari ini ! Tepatnya sih, tidak sengaja, karena saat itu keluarga kami hanya berfokus pada tanggal yang kira-kira berpotensi libur panjang. Kami pun memilih tanggal 21 September yang jatuh di hari kamis. Semua senang, karena kami hanya perlu mengambil satu cuti di hari Jumat. Maklum, kedua kakakku bekerja di perantauan dan semuanya workaholic. Mereka terlalu sayang mengambil jatah cuti, meski untuk menghadiri pernikahan adiknya sekalipun. Huh!

Aku tersenyum mengingat memori setahun lalu. Keluarga mas terpaksa harus berhadapan dengan ayah dan kakak saat mereka meminta perubahan jadwal pernikahan.

“Tolonglah, pak! Kami baru sadar kalau tanggal itu 1 Muharam. Bagaimana kalau terjadi sesuatu?” Bujuk ayah mertua kala itu. Ups, dulu masih calon ya. Hehe.

“Semua tanggal baik pak! Kakak-kakaknya sudah terlanjur mengambil cuti di hari itu. In syaa Allah aman!” Bantah ayah. Aku yang mendengar hanya senyum-senyum. Ayah mah orangnya keras. Sekali A tetap A. Mereka masih berdebat beberapa lama hingga akhirnya ayah mertua mengalah. Ayah menang! Bravo, sesuai dugaan, hahaha.

*

Hampir setahun. Masih seumur jagung pernikahan kami. Seperti kata ayah, dan memang begitu semestinya, hari itu semua berjalan lancar. Tak banyak tamu yang datang, tapi orang-orang penting di lingkaran kami hampir semuanya hadir. Hari itu kami memulai lembaran baru. Dua orang yang sebelumnya tak saling kenal, hanya berbekal taaruf beberapa kali, nekat memutuskan menikah. Aku menghela nafas. Hampir setahun, tapi…

Katanya, cinta yang ditumbuhkan itu jauh lebih indah dibandingkan cinta yang ditemukan*. Meskipun memang sulit, namun hasilnya sepadan. Jika kamu telaten menyemainya, perasaan saat melihat benih itu tumbuh, adalah perasaan yang takkan terlupakan.

Ah, mungkin aku memang tak telaten. Entah berapa kali aku lebih banyak kecewa dan justru timbul benci. Tentang mas yang susah dibangunkan solat malam, tentang mas yang di hari libur justru tidur lagi setelah solat subuh… Huff.. padahal, aku punya bayangan keluarga idaman yang jauh dari itu. Bangun malam sama-sama, berdoa untuk mimpi-mimpi kita bersama… pergi ke kajian ahad pagi bersama… tapi…

***

“Loh, sendirian Nis?”

Aku mendadak terkenang pada kejadian di ahad pagi seminggu lalu. Aku sangat terkejut melihat kak Fatan yang tiba-tiba muncul di hadapanku saat menghadiri kajian. Aku memang datang ke masjid sendirian karena lagi-lagi mas masih tidur dan menolak datang. Alasannya, dia bisa mendengarkan rekamannya nanti di channel telegram. Segera saja kurasakan setan menggoda untuk menyisipkan angan-angan. Ah, andai dahulu aku sabar menunggu kak Fatan menyelesaikan studi masternya… Buru-buru aku menepis pikiran itu. Kak Fatan sudah memilih untuk melepaskanku dibandingkan menghalalkan!

“Eh iya kak. Suami lagi ti… ada urusan! Hehe. Kak Fatan sendirian?” tanyaku salah tingkah

“Iya nih. Belum ada yang ngedampingi, hahaha.” Candanya renyah. Membuat hatiku justru gerimis.

“Semoga segera dipertemukan jodoh terbaik ya kak. Maaf kak, aku buru-buru. Aku pamit dulu ya. Assalamu’alaikum!” Aku segera pergi, bahkan sebelum kak Fatan menjawab salam. Aku tak kuat lagi. Istri macam apa aku yang tidak bisa bersyukur atas keadaan suaminya?

Uh! Aku memejamkan mata, hampir menangis. Kuakhiri nostalgiaku sembari menutup album foto. Rasanya, hanya keajaiban yang bisa menumbuhkan benih cintaku kepada Mas.

*

“Mas, bangun. Sholat malam yuk!” ajakku, lagi, untuk yang ke-340 kalinya. Dan lagi-lagi, hanya ada hening. Seberapa capekkah kamu mas? Rasanya, aku sudah berusaha merapikan rumah juga menyiapkan segala keperluanmu dengan harapan agar kamu bisa beribadah dengan tenang, tapi…

Aku memercikkan sedikit air, tapi tak ada hasil. Kuciumi dahi dan pipinya, lagi-lagi hasilnya nihil. Huff! Sia-sia rasanya. Aku memutuskan untuk kembali meninggalkannya dan sholat sendirian. Namun, mendadak aku tertarik pada earphone yang tergeletak di sebelahnya. Sepertinya mas memang selalu tertidur sembari mendengarkan sesuatu. Musikkah? Huff, aku malah semakin ilfeel. Selama ini aku tidak pernah iseng untuk membuka HP Mas, tapi entah mengapa rasa jengkelku malam itu semakin menjadi, membuatku merasa tak peduli lagi dengan izin dan semacamnya. Aku membuka HPnya. Astaghfirullah! Jadi, selama ini…. Aku termenung untuk beberapa saat lamanya

*

Mungkin aku memang terlampau menaruh ekspektasi tinggi terhadap Mas. Bukankah dalam perkenalan saat taaruf, dia mengaku bahwa ia belum lama hijrah? Bukankah aku yang mau menerimanya, karena, meskipun ia masih belum lancar mengaji Al Qur’an, menurut penuturan murrobbinya, akhlaqnya begitu baik terhadap keluarga dan sesama? Bahkan, saat dulu aku mematainya diam-diam, kudapati betapa baiknya ia terhadap para pedagang asongan di sekitar kampus ataupun terhadap anak-anak yang menjual tisu. Mas sering sekali mentraktir mereka makan. Kenapa aku bisa melupakan sisi baik itu? Meskipun aku tak melihatnya, bukan berarti mas tidak memiliki kebaikan sama sekali kan? Justru kini, aku yang merasa malu. Betapa sombongnya aku karena pernah merasa lebih baik dari Mas, padahal Allah yang lebih tahu…

Ternyata Mas sering tertidur sembari mendengarkan murrotal Al Qur’an. Bahkan dalam file audionya, banyak tersimpan rekaman kajian-kajian yang selama ini aku datangi. Kupikir Mas hanya basa-basi ketika dia bilang bisa mendengarkan rekamannya jika tidak datang. Astaghfirullah… Annisa, kamu sudah suudzon pada suamimu sendiri…

Malam itu, aku bersyukur telah iseng membuka HP Mas. Aku akhirnya menyadari bahwa ada sesuatu yang perlu diubah. Bukan dari pihak Mas, tapi justru dariku. Aku harus mulai mengubah sudut pandang, meruntuhkan ego, dan lebih melihat pada “cahaya” Mas dibanding gelapnya… Kalau tidak begitu, selamanya benih cinta ini takkan pernah tumbuh. Aku tak mau begitu!

*

11 september 2018

“Happy anniversary sayang!” Aku mencium dahi Mas, dengan niatan membangunkan sholat malam, tapi kali ini dengan hati yang lebih ikhlas. Tak berharap, tapi juga tidak meremehkan bahwa ia takkan bangun. Rasanya jauh lebih lega, walaupun dari kemarin belum ada hasil yang berarti. Yah, tak apa kan? Bukankah seharusnya kita memang tak boleh kesal hanya karena ajakan kita tak dihiraukan?

Belum ada yang berubah dari Mas, sejak malam itu. Akulah yang memutuskan berubah. Juga, kini aku mulai menyisipkan doa untuk Mas, karena, memang hanya Allah yang akan mampu menggerakkan hatinya, seperti Allah menggerakkan hatiku untuk bisa bangun malam. Tugas kita hanya berikhtiar…

“Dek?” Aku terkejut melihat Mas terbangun saat aku sudah selesai shalat dua rakaat. Aku mengucek-ucek mata, memastikan bahwa ini bukan mimpi.

“Kamu tadi bangunin aku ya Dek? Buat sholat malam?” Tanya Mas. Aku terpana, lantas kemudian mengangguk.

“Hari-hari sebelumnya juga begitu?” tanya Mas lagi. Aku mengangguk.

“Tapi Mas nggak bangun.” Jawabku.

Mas beristighfar lantas memelukku.

“Maaf ya… Mas sebenarnya selalu ingin bisa bangun malam, tapi badan mas rupanya terlalu lelah..”

Aku hanya bisa mengangguk. Iya,Mas… Aku memang takkan pernah tahu seberapa lelahkah kamu, tapi memang seharusnya aku tidak boleh menyepelekan hal tersebut. Bisa jadi pahala Mas bekerja untuk keluarga jauh lebih banyak dibandingkan pahala untuk sholat-sholat malamku… Aku menghela nafas.

“Yasudah, Mas sholat dulu ya.” Ujar Mas. Aku mengangguk, sembari menahan rasa haru yang ada di dalam dada. Ya Allah…

*

“Happy anniversary Mas.” Aku mengucapkan selamat sekali lagi, sesudah kami shalat malam bersama.

“Lho? Emang sekarang? Bukannya tanggal 21?” tanya Mas bingung.

“Iyaaa, kalau versi kalender hijriah sih sekarang,hehehe. Kan 1 muharram hehe.”

“Ooo iya yaa.. Haha jadi ingat perdebatan ayah kita saat ayahku meminta tanggal pernikahan kita diubah.” Mas terkekeh, lantas kemudian menatapku lembut.

“Happy anniversary sayang. Semoga kita bisa selalu memperbarui cinta kita ya dan terus tumbuh bersama dalam kebaikan.Terima kasih atas segalanya ya Dek.”

Aku tersenyum mengangguk. Kurasakan ada sesuatu yang hangat di dalam dada. Ah, rasanya benih cinta itu sudah mulai tumbuh… Semoga aku bisa terus merawatnya dengan penuh syukur… Aamiin.

**

Depok, 30 September 2018

ditulis dalam rangka one writing one week KAMI Menulis IP Depok.

*Pernah baca quote ini entah di mana 😅

.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Instagram