Mendidik dengan Jiwa Enterpreneur?



Ditulis oleh Afifah Muharikah

Ketika saya menulis ini, saya sedang menyaksikan Ko Perry, yang dikenal sebagai raja outlet dan pemilik ‘floating market’ di Lembang, memberikan sesi berbagi pengalaman tentang lika-liku perjalanan karir hidupnya sebagai pengusaha. Kali pertama lihat beliau, saya mengira ia tidak begitu ramah. Bayangan saya sebelum melihat sosok nyata beliau, saya pikir ia memiliki air muka setipe motivator-enterpreneur macam Adrian Wongso, Ary Ginanjar, atau Mario Teguh yang terlihat hebat karena kekuatan gaya bicaranya. Saat itu wajah Ko Perry terlihat sangat serius dan beberapa kali saya mendapatinya sedang melirik jam tangannya. Namun, setelah mulai berbicara, saya kira semua orang di acara tersebut setuju bahwa Ko Perry adalah tipe pembicara yang hebat karena kekuatan kontennya. Ia memulai pembicaraannya dengan pernyataan, “Setiap orang tidak perlu menjadi enterpreneur. Karena kalau semua orang jadi enterpreneur nanti siapa yang beli produk gue?” kata-katanya disambut gelak tawa hadirin, termasuk saya, yang langsung terkesan karena kalimat pembukanya sungguh ear-catchy. Kemudian beliau melanjutkan kalimatnya, “Semua orang tidak perlu jadi enterpreneur, tapi, semua orang harus berjiwa enterpreneur: Apapun pekerjaannya.” Kalimat lanjutan tersebut membuat hadirin terbius sejenak, menunggu kalimat sakti apa yang akan menyusul. “Dan jiwa enterprenuer itu adalah jiwa mengamati, melayani, dan menyentuh.” Ketiga prinsip tersebut dijabarkan melalui kisah aksi yang dilakoni Ko Perry selama bergelut di bidang usaha sejak 1985 dan di saat bersamaan cerita beliau membuat sebagian dari diri saya menyentil saya dengan pertanyaan, “Bagaimana, Teh? Teteh teh punya jiwa tersebut dalam berkarir?”

Ko Perry mengatakan bahwa mengamati lingkungan adalah hal yang paling penting sebelum memulai usaha. Beliau bilang dengan mengamati masyarakat, gaya hidup mereka, dan kebutuhan mereka, seorang pengusaha dapat menciptakan sebuah pasar. Sebagai contoh, ia melihat Lembang sebagai daerah yang memiliki pemandangan dan udara yang bagus namun sangat sedikit tempat wisata yang dikunjungi. Beliau yang sudah memiliki konsep tentang pasar apung pun membeli sebidang tanah yang kemudian beliau suap menjadi sebuah tempat wisata. Kebutuhan dasar turis yang datang ke Lembang akan tempat makan, shalat, dan tempat membuang hajat, selama perjalanan akhirnya terpenuhi dengan adanya tempat wisata yang ia garap. Pun, dalam karir saya di dunia pendidikan, kami mengenal dengan apa yang namanya Analisa Kebutuhan. Serangkaian metode dapat digunakan untuk mencari kebutuhan peserta didik. Hasil data dari analisa kebutuhan tersebut membantu pendidik untuk menawarkan sebuah rancangan pembelajaran yang dapat membantu peserta didik memenuhi kebutuhan mereka. Memberikan tepat dengan apa yang dibutuhkan target adalah kunci dari ‘jiwa’ pertama ini.

Setelah berhasil menentukan apa yang akan dijual kepada target pasar, Ko Perry menekankan pentingnya melayani pasar. Pasar di sini terdiri dari berbagai aspek, mulai dari konsumen, klien, dan karyawan. Aspek melayani tidak terlepas dari aspek mengamati. Artinya, dengan terus mengamati kebutuhan pasar, seorang pengusaha dapat senantiasa melengkapi kekurangan yang dibutuhkan dengan maksud membantu mereka. Sebagai contoh, kebutuhan turis akan oleh-oleh membuat Ko Perry membuka factory outlet dan booth oleh-oleh berupa tahu sebagai khas lembang di floating market. Dengan klien, beliau melayani masyarakat sekitar dengan mengumpulkan mereka untuk berdagang di tempat wisatanya. Sedangkan dengan karyawan, beliau memfasilitasi mereka untuk beribadah, walau sebagian besar karyawan memiliki kepercayaan yang berbeda dengannya. Beliau juga menekankan pentingnya memenuhi kebutuhan karyawan, tentunya dengan menanyakan atau mengamati kebutuhan mereka sebelumnya. Berkaitan dengan dunia pendidikan, penting bagi seorang pengajar untuk senantiasa mengevaluasi perkembangan peserta didik dan terus berusaha mencari metode pengajaran yang tepat untuk membantu siswa belajar dalam keadaan terbaik mereka. Pendidik harus mengajar dengan perasaan ‘melayani’. Tulus berterima kasih karena peserta didik mengizinkan para pendidik berperan mewarnai perjalanan mereka menuju masa depan mereka.

Jiwa ‘menyentuh’ berkaitan erat dengan emosi dan saling bertautan dengan kedua jiwa sebelumnya untuk mewujudkannya. Ko Perry menggambarkan bahwa pelayanan yang datang dari hati akan menyentuh orang yang dilayani sehingga orang tersebut akan balik melayani kita. Sebagai contoh, beliau berusaha melayani pengunjung dengan berusaha mengamati kebutuhan mereka dan memenuhinya. Secara alami, para pengunjung ‘melayani’ beliau dengan mempromosikan tempat wisata beliau melalui sosial media pribadi mereka yang akhirnya menjadi viral. Banyak para pengunjung datang karena rekomendasi dari situs-situs yang mempromosikan tempat wisatanya. Hal lainnya adalah sentuhan emosi yang Ko Perry berikan kepada kliennya, penjual makanan di tempat wisatanya. Beliau membantu mereka mempromosikan jualan mereka dan tanpa segan berbagi ilmu kepada mereka. Ko Perry ingin para klien itu memiliki sense of belonging terhadap jualan mereka dan tempat wisatanya. Terhadap karyawannya, Ko Perry tidak segan-segan turun tangan sendiri membersihkan tempat wisatanya ketika para karyawan kebersihan tidak dapat datang karena kelelahan. Beliau juga mewajibkan para pengusaha untuk terjun langsung dalam usahanya. Berikan sentuhan-sentuhan emosional kepada pasar, dan timbal balik emosional akan kembali sebagai imbalan. Bayangkan apabila seorang pengusaha tidak memiliki ikatan emosional sama sekali dengan usahanya karena mendelegasikan pekerjaannya kepada karyawan. Cerita Ko Perry dalam hal ini mengingatkan saya tentang pentingnya sentuhan emosional seorang pendidik kepada peserta didik. Emosi seorang pengajar akan mudah dikenali oleh peserta didik, terutama apabila peserta didik tersebut adalah anak-anak. Anak-anak menyerap emosi orang dewasa di sekitarnya seperti sponge karena aura receptor mereka masih berfungsi lebih baik dibandingkan orang dewasa. Menyentuh peserta didik dengan perasaan tulus dan ikhlas akan membuat siswa merasa nyaman dan mudah menerima pelajaran dengan baik. Dan bagi seorang pendidik, mendapati peserta didik mendapat prestasi yang baik merupakan timbal balik ‘pelayanan’ untuknya.

Ketiga jiwa enterprenuer yang disebutkan Ko Perry: mengamati, melayani, dan menyentuh, merupakan ketiga aspek yang saling berkaitan satu sama lain. Ketiga aspek tersebut dapat dimiliki oleh seseorang yang menikmati pekerjaannya. Apabila seseorang menyukai pekerjaannya, ia akan senantiasa menerapkan jiwa enterpreneur dalam mengerjakan pekerjaannya dan pekerjaannya akan menghasilkan kebahagian untuknya. Dengan jiwa tersebut, seorang pengusaha akan mendapatkan keuntungan yang besar dan seorang pendidik pun akan bahagia melihat anak didiknya tumbuh sukses. “Job is joy!!” begitu kata Ko Perry menutup pembicaraannya. “Nikmati perkerjaan Anda, dan Anda akan memberikan yang terbaik pada pekerjaan Anda. Tentunya, jika Tuhan menghendaki.” Semua orang di sana bertepuk tangan dengan meriah sebagai tanda penghormatan kepada pria yang saat itu memakai kemeja putih sederhana dengan sedikit robekan di bagian belakangnya. Saya tersenyum sendiri melihat bahwa dia benar-benar menunjukkan betapa ia menikmati pekerjaannya. Senyum saya pun kemudian sedikit memudar ketika bagian dari diri saya kembali menggelitik, “Do you enjoy your job, Teteh?”

Sumber gambar: 
http://assets.sheratonbandung.com/lps/assets/u/Floating-Market-Lembang-2.JPG

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Instagram